Membangun Software Ujian Sendiri Untuk Sekolah Dengan Bantuan AI

Beberapa waktu lalu, Kepala Sekolah berdiskusi dengan saya mengenai sebuah keresahan yang mendalam. Beliau mengamati bahwa di era keterbukaan informasi ini, siswa seringkali menyalahgunakan teknologi saat ujian—mulai dari melakukan pencarian di Google hingga menggunakan bantuan AI seperti ChatGPT dan Microsoft Copilot. Harus diakui, generasi saat ini sangat melek teknologi; soal sesulit apa pun kini dapat dijawab dalam hitungan detik dengan bantuan kecerdasan buatan.

Menanggapi hal tersebut, saya mengusulkan pengembangan software ujian khusus yang menyerupai Exambro pada ANBK. Meskipun solusi gratis seperti Safe Exam Browser (SEB) sudah tersedia, kendala konfigurasi yang rumit dan keharusan instalasi manual pada setiap perangkat siswa menjadi hambatan tersendiri bagi tenaga pendidik yang sibuk.

Berbekal pemahaman dasar di bidang WordPress namun tanpa latar belakang pemrograman (coding), saya memutuskan untuk berkolaborasi dengan Gemini, AI canggih dari Google, untuk merancang sebuah solusi yang saya beri nama EXAMUQ.

Masalah dalam Ujian Sekolah Berbasis Google Form

Berdasarkan observasi di lapangan, terdapat tiga kendala utama yang merusak integritas ujian sekolah:

  1. Ketiadaan Fitur Blocking: Google Form adalah aplikasi berbasis web standar yang tidak memiliki kemampuan untuk mengunci browser (lockdown), sehingga siswa bebas melakukan pencarian di tab lain.
  2. Manajemen Link yang Rumit: Setiap mata pelajaran menggunakan tautan berbeda (bit.ly). Kesalahan pengetikan (typo) oleh siswa sering terjadi, yang mengakibatkan hambatan teknis saat ujian dimulai.
  3. Celah Kecurangan Multi-tasking: Tanpa sistem pengunci, siswa dengan leluasa bisa berpindah jendela (Alt+Tab) untuk membuka e-book atau file PDF di perangkat mereka.

Konsep Software Ujian Sekolah: EXAMUQ

Karena ekosistem sekolah sudah nyaman menggunakan Google Form, konsep dasar EXAMUQ adalah membungkus (wrapping) Google Form ke dalam aplikasi khusus agar URL aslinya tidak terekspos. Siswa memulai ujian dengan membuka software, lalu memasukkan token sebagai jembatan (bridge) menuju soal.

Sistem ini terdiri dari dua bagian utama:

1. EXAMUQ Admin

Merupakan dashboard manajemen berbasis web untuk mengelola distribusi soal tanpa harus membagikan banyak link secara manual.

examuq admin
  • Dashboard Input: Mengonversi link Google Form yang panjang menjadi token unik (5 karakter).
  • Monitoring Real-time: Memantau aktivitas peserta ujian yang sedang aktif di dalam sistem.

2. EXAMUQ Client

Software khusus (desktop app) yang diinstal di laptop siswa. Begitu dijalankan, aplikasi akan langsung mengunci perangkat dan mengarah ke halaman input token.

examuq client
  • Anti-Cheating System: Memblokir kombinasi tombol sistem (Windows Key, Alt+Tab, Ctrl+Alt+Del).
  • Kiosk Mode: Memastikan aplikasi berjalan satu layar penuh tanpa bisa diminimize sebelum ujian selesai.
  • Cross-Platform: Mendukung perangkat berbasis Windows maupun MacOS.

Perjalanan Trial dan Error

Tanpa dasar coding, perjalanan membangun EXAMUQ penuh dengan uji coba. Awalnya, EXAMUQ dikembangkan hanya sebagai ekstensi Google Chrome, namun metode ini memiliki banyak celah keamanan yang mudah dijebol oleh siswa.


Melalui proses diskusi dan debugging bersama AI, saya akhirnya memutuskan untuk beralih menggunakan Electron. Dengan teknologi ini, EXAMUQ bertransformasi menjadi aplikasi desktop yang jauh lebih solid, aman, dan mampu memberikan kontrol penuh terhadap sistem perangkat selama ujian berlangsung.

"Teknologi mungkin memberikan tantangan bagi kejujuran, namun dengan bantuan AI, kita bisa mengembalikan integritas pendidikan melalui solusi digital yang tepat."

Posting Komentar